Senin, 16 November 2009

Pemahaman Alkitab Jemaat (Awam)

james faot

Pemahaman Alkitab Jemaat (Awam)

I. I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemahaman Alkitab merupakan hal yang bersifat prinsip dan urgen (kebutuhan yang sifatnya mendesak) bagi jemaat. Menjadi prinsip karena Karena Alkitab/firman Allah merupakan pedoman bagi kehidupan jemaat. Sebagai pedoman Alkitablah yang menjadi dasar, yang di atasnya kehidupan jemaat dibangun. Dan urgen karena jikalau kehidupan jemaat tidak didasarkan di atas fiman Allah maka jemaat akan terombang-ambing serat tak tentu arah dalam menjalani kehidupannya. Demikain, tidak dapat dipungkiri bahwa suatu jemaat dapat bertumbuh secara baik melalui pemahan Alkitab yang mendalam atau mengakar serta benar, sehat.
Dalam lingkungan jemaat pemahaman Alkitab yang secara mendalam dan sehat, dapat dikatakan hanya memiliki ruang yang terbatas. Maksudnya adalah bahwa upaya-upaya gereja dalam memberikan program-program pembelajaran khusus tentang Alkitab hanya berorentasi pada majelis, guru sekolah minggu atau pengerja gereja yang mengambil bagian dalam pelayanan gerejawi yang sifatnya formal. Biasanya pembelajaran ini dilakukan oleh para pendeta dan juga mereka yang dianggap memiliki pengetahuan-pengetahuan yang mendalam tentang Alkitab sebab mereka bergelud dalam pendidikan Alkitab atau pendidikan teologis melalui lembaga-lembaga yang formal pula. Hal ini tidaklah salah! Tetapi terdapat kesan negatif yakni pemahaman Alkitab menjadi “barang” elit dan langka bagi mayoritas jemaat. Sebab kesempatan pembelajaran Alkitab yang justru menjadi kebutuhan setiap anggota jemaat termasuk mereka yang dikatakan awam hanya dinikmati atau diperoleh sebagian kelompok dalam jemaat (www.duniaAlkitab.com). Di samping itu, dari keterbatasan waktu memperoleh pengajaran-pengajaran Alkitab seperti pada ibadah mingguan, ibadah rumah tangga atau singkatnya moment-moment pembelajaran Alkitab yang terprogram dari suatu gereja dan dipimpin secara khusus oleh pegerja-pengerja hanya akan membawa jemaat pada suatu kondisi “keterlupaan” akan apa yang di pelajari. Tentu saja karena jemaat tidak secara lebih jauh terlibat dalam suatu proses pemaknaan secara pribadi dari suatu penyampaian firman secara satu arah (monolog). Maka Jemaat menerimanya secara dangkal (banal) (Lawrence, 1994:94-95). Hal ini paralel dengan pandangan Robson (1996:15-16) dalam Laurence, bahwa pertumbuhan iman jemaat tidak dapat dilihat saja dari segi jumlah atau kwantitas dalam kebaktian berjemaat tetapi pertumbuhan iman jemaat lebih ditentukan oleh segi kealitas penerimaan pengajaran Alkitab dalam kebaktian jemaat. Oleh sebab itu segi kwalitas terletak pada partisipasi jemaat yang diproses secara kuat dan mendalam sehingga penghayatan-penghayatan firman dapat terjadi.
Dari sisi kemalasan jemaat sendiri sangat mempengaruhi pertumbuhan imannya. Salah satu surver yang dilalukukan Rich Warren, salah satu gembala sidang aliran Baptis di Amerika, melaporkan bahwa dari 1.000 orang pemuda yang terlibat dalam jerat narkotika, alkohol, sex bebas, kekerasan, dll, sebasar 84 persen dari mereka telah lama (2-3 tahun) yang kehidupannya sama sekali tidak berurusan dengan gereja, ibadah pemuda dan kegiatan kegiatan lain yang sifatnya rohani, (www.duniaAlkitab.com).
Ketika pemahaman Alkitab menjadi “barang” yang elit dan langka serta dangkal (banal) dan tidak dipedulikan bagi mayoritas jemaat awam, mereka akan dilihat sebagai kelompok atau sasaran yang rentan dan potensial dalam hal pertumbuhan iman atau kepercayaan yang tidak benar dan sehat. Hal ini sudah tentu membahayakan pertumbuhan jemaat baik secara pribadi dan kelompok. Sebab mereka tidak memiliki dasar keimanan yang kuat yang bersumber dari Alkitab.
Salah satu bukti yang patut dikemukakan di sini adalah pergerakan-pergerakan sekte-sekte (aliran-aliran sesat) dan ilah-ilah zaman modern. Di Kupang pada beberapa tahun yang lalu, sekolompok orang kristen terhasut dalam pengajaran “Kristen Akhir Zaman” (escatologies christian) yang dipimpin oleh Mangapin Sibuae. Sekte ini mengajarkan bahwa kedatangan Tuhan (parousia) akan segera terjadi dalam jangka waktu pada tahun 2002/2003 dan oleh karena itu seluruh jemaatnya harus berkumpul di Bandung (gereja pusat “Kristen Akhir Zaman”) untuk menyambut kedatangan Tuhan (parousia). Padahal keyakinan itu tidak terjadi. Atau sekte “Kristen Suradi” yang dipimpin ole Doktor Suradi. Sekte ini mengajarkan bahwa Allah tidak membenarkan bahwa kata-kata dalam kitab suci (Alkitab) seperti nama Tuhan “Elohim”, Yosua (Yesus), dll tidak boleh diterjemahkan dalam bahasa lain, sebab upaya penggantian merupakan tindakan “pehinaan” terhadap Allah. Padahal menurut (Herlianto, 2001:101) dalam penulisan Alktab ke dalam bahas Indonesiadimilai sejak pertamakalinya sedini awal abad XVIII, nama Allah sudah digunaka. Selanjutanya Herlianto sambil mengitip Dr. Daud H. Soesilo konsultan Lembaga Alkitab se-Dunia ymengatakan bahwa: “dalam terjemahan Melayu dan Indonesia kata Allah sudah digunakan trus menerus, sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melatu (ter. Albert Cornelis Ruly, 1629).”
Ilah-ilah zaman modern juga merupakan bahaya yang bergerak secara halus sehingga hampir sulit untuk dikenali. Seperti Kemabukan, pesta pora, sex bebas, porno garafi, porno aksi, perselingkuhan, konsumerisme, sekulerisasi gereja, konflik agama, suku, dll. Beberapa diantaranya menjadi “akrab” dengan kehidupan orang kristen. Kemabukan dan pesta pora hampir dikatakan dari sudut pandang tradisi adalah hal yang dianggap sebagai kewajaran. Mengapa? Karena kedua hal ini telah dibenarkan dalam logika kebiasaan masyarakat atau orang kristen dalam kelompok tertentu atau wilayah tertentu (Stenly Heart, 1997:39). Sex bebes, perselingkuhan, konsumerisme, sekulerisasi adalah perilaku kejahatan dalam konteks trend yang mendapatkan pembenaran dari logika modern/kemajuan masyarakat. Padahal belum tentu benar jika dipandang dari segi Alkitabiah. Sekulerisasi gereja atau gereja yang digiring pada gaya yang duniawi seperti penekanan kesuksesan hidup secara rohani berimplikasi pada kesuksesan material, busana vulgar atau terbuka yang sekarang jelas dan diminati ketika orang beribadah, bangunan-bangunan gereja super mewah dan berarti juga super mahal dan bahkan selalu menjadi obsesisi pemimpin gereja dan jemaat yang walau menyita waktu, tenaga, biaya, dll. selalu saja diusahakan.
Bahaya-bahaya nampak dan laten inilah yang perlu diwaspadai oleh gereja dalam keberadaanya (eksistensi) di dunia. Secara khusus jemaat awam yang terbatas dalam pemahaman yang mendalam dan mengakar terhadap firman Allah. Demikian pula bahwa pemahaman Alkitab yang mendalam yang bisa dikatakan sebagai “barang” elit, langka dan banal, maka penulis yang bergumul dengan kegelisahan ini, mencoba membagikan pikiran yang sederhana tentang “Pemahana Alkitab Jemaat Awam” dalam bentuk desain materi pembelajaran Alkitab yang dapat dipakai oleh jemaat awam guna memperoleh pemahanan Alkitab yang benar dan sehat dan kuat sehingga monolong mereka dalam bertumbuh dan mengupayakan kehidupan kristen yang mencerminkan nilai-nilai kristiani.
Permasalahan
Dalam gambaran di atas cukup nampak setingan permasalahan dalam makalah ini. Tetapi, saya ingin lebih menegaskan permasalahan apa yang ingin saya kaji dalam diskusi ini ialah:
1. Peran jemaat awam dalam pemahaman Alkitab?
2. Apa saja prinsisp-prinsip pengembagan kurikulum PAJA?
3. Langkah-langkah dalam pembuatan materi PAJA?
4. Desain materi pelaksanaa PAJA?
Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai melalui diskusi ini ialah: “Memberikan suatu terobosan strategis bagi upaya menumbuhkan iman jemaat awam yang diformulasikan dalam bentuk desain materi (PAJA) yang sifatnya kontekstual, sederhana (simple) serta praktis sehingga dengan sangat mudah dipakai oleh setiap jemaat guna memperdalam pemahan Alkitab baik secara pribadi dan kelompok.”

II. ISI
Jemaat Awam sebagai Subjek dalam Pemahaman Alkitab
Berbicara tentang pemahaman Alkitab jemaat maka jemaat merupakan subjek dari kegiatan tersebut. Jemaat sebagai subjek berarti keseluruhan usaha pemahan Alkitab harus melibatkan dan bertujuan pada jemaat. Dengan demikian maka jemaat berada pada posisi sentral dari kegitan-kegiatan yang dilakukan gereja dalam hal pengajaran.
Dalam kaitannya dengan konsep jemaat awam, maka perlu dicerahkan secara tegas bahwa konsepsi awam berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:80-81) berarti “orang biasa, tidak istimewa dan tidak khusus, masih baru dalam suatu hal baik pengetahuan atau pengalaman, dan tidak mempunyai kecakapan secara khusus tentang suatu ha. Masyarakat awam perlu diberi penjelasan yang spesifik dan jelas ”. Dari defenisi yang sederhana inilah saya ingin mengolah pemahaman saya tentang ”jemaat awam”. Jikalau kita menerima defenisi ini, maka yang disebut sebagai jemaat biasa adalah pertama, mereka yang secara kelembagaan dalam gereja tidak menduduki suatu posisi struktural dalam tanggung jawab pelayana gerejawi. Artinya bahwa mereka adalah jemaat yang tidak secara langsung aktif/terlibat atau mengmbil bagian dalam menjalankan fungsi “pegerja” seperti pendeta, majelis, penatua, diaken, dan guru PAR. Yang nota bene mereka adalah jemaat yang secara khusus dari segi waktu, kesempatan dan aktivitas-aktifitas pembelajaran akan firman relatif lebih banyak dari mereka yang tidak melakukannya. Singkatnya jemaat awam adalah mereka berada di luar garis tanggung jawab pelayanan gereja secara formal, sistimatis dan memiliki intensitas pembelajaran jauh lebih banyak dan dalam. Kedua, jemaat awam adalah mereka atau jemaat yang secara pengetahuan dan pengalaman tentang pelayanan—termasuk juga pengetahuan Alkitab—dinilai sangat minim atau terbatas. Oleh karena itu, pembelajaran Alkitab—secara mendalam—berdasarkan metode-metode khusus belum pernah dilakukan sehingga hal ini merupakan sesuatu yang baru baginya. Ketiga, jemaat awam secara populer berhubungan juga dengan level pendidikan suatu jemaat. Sebab hal ini sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan pemahan jemaat.
Tetapi, hakekat mereka adalah jemaat Kristus yang wajib dan mesti memperoleh bagian dalam pembelajaran Alkitab. Jemaat awam memiliki kebutuhan akan firman Allah demi membangun kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Alkitabiah. Oleh sebab itu, partisipasi aktif dari mereka menjadi syarat utama dalam upaya pemahaman Alkitab. Pastisipasi aktif berarti juga bahwa jemaat awam harus berproses secara langsung dalam pembelajaran Alkitab. Jemaat awam tidak dapat ditempatkan pada posisi objek dalam pembelajaran sebab ketika mereka ditempatkan dalam posisi objek pembelajaran Alkitab suatu tranformasi/perubahan secara implisit dan esensi tidak akan terjadi. Bahkan jemaat awam terdiskriminasi dari hak-haknya untuk untuk mempelajari Alkitab secara lebih baik dan mendalam.
Dalam perspektif/sudut pandang jemaat awam sebagai subjek dalam upaya pemahaman Alkitablah maka pemahanam Alkitab tidak menjadi “elitis” dan langka oleh karena jemaat awam adalah memainkan peran secara penuh/total dalam membagun kepahaman mereka tentang Alkitab dan meginternalisasi nilai-nilai kebenaran Alkitab dalam suatu kehidupan nyata melalui pikiran, perkataan dan tindakan mereka.
Dalam PL (Ul. 6:4-9; 11:13-21 dan Bil. 15:37-41), mampak jelas bahwa pemahaman akan firman Allah tidak hanya dijalankan oleh Musa pebagai pemimpin bangsa Israel, tetapi pemahan akan firman Allah adalah tanggung jawab setiap umat, baik ayah, ibu dan anak-anak. Ayat-ayat yang dikutip di atas secara tradisi Yahudi disebut sebagai Shema (“dengarlah”) yang memberikan pengertian tentang hekakat Tuhan yang esa dan pengasih. Dalam hubungannnya dengan pemahaman Alkitab jemaat awam, seruan Musa adalah pengajaran kepada seluruh umat israel (Ul. 6:1) dan sebab itu maka pengajaran juga harus terus berlangsung dalam setiap rumah tangga (ayat 3 dan 7). Artinya bahwa pemahaman Alkitab harus menjadi bagian setiap umat termasuk jemaat awam. Di sini berarti juga bahwa ayah, ibu, anak-anak harus mengambil bagian dalam pembelajaran Alkitab atau harus ada partisipasi aktif dan langsung dari setiap jemaat untuk memperdalam pemahamannya tentang akitab demi memberikannya suatu keteguhan dan arah dalam menjalankan hidup sebagaiman dikehendaki Allah. Jadi tanggung jawab belajar dan mengajarkan firman Allah adalah bagian yang harus diperankan oleh jemaat.
Demikian maka, dimensi pemahaman Alkitab jemaat awam secara strategis ialah terbukanya “ruang” bagi jemaat awam serta terbagunnya kesadaran jemaat awam untuk menjalankan tugas serta tanggung jawabnya sebagai “Pengikut Kristus”, —Kristus adalah firman itu sendiri (Yoh. 1:1)—yang secara paralel dan normatif perlu mewujudkan diri sama seperti hidup Kristus.
Dasar-Dasar Desain Materi Pemahanan Alkitab Jemaat Awam
Pemahaman tentang konsepsi “awam” dengan sendirinya menbatasi kita dalam hal mempersiapkan materi pembelajarannya. Sebab jemaat awam yang merupakan sasaran dari pelaksanaan PAJA. Demikian maka menjadi penting sebelum kita mendesain suatu materi PAJA dengan mempertimbagkan secara khusus prinsip-prinsip desain materi PAJA.




Beberapa prinsip yang dianggap penting bagi desain materi PAJA, saya berusaha untuk mengadaptasikan prinsip-prinsip pengembagan kurikulum secara formal.
Prinsip Pengembagan Kurikulum PAJA
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan jemaat dan lingkungannya
Kurikulum PAJA dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa jemaat awam memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi jemaat yang betumbuh berdasarkan firman Allah. Menjadi jemaat yang mengasihi Tuhan dan sesamanya sesuai dengan nilai-nilai Alkitabiah. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kemampuan (kompetensi) jemaat awam disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan mereka serta kondisi lingkungan.
b. Beragam dan terpadu
Kurikulum PAJA dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik jemaat awam, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum PAJA dapat meliputi kitab-kitab dalam Alkitab dan atau pasal-pasal secara berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk memberikan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan diri/iman secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi/pokok.
c. Tanggap terhadap perkembangan Iptek
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa pengetahuan Alkitab dan teknoligi berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong jemaat untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan pengetahuan Alkitab dan teknologi yang dapat dimanfaatkan demi menunjang pembelajaran Alkitab.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan jemaat
Pengembangan kurikulum PAJA dilakukan dengan melibatkan seluruh unsur kehidupan jemaat selaku masyarakat dan umat Allah. Hal ini baik untuk menjamin relevansi pembelajaran dalam PAJA dengan kebutuhan kehidupan jemaat, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi/pokok kurikulum PAJA mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian Alkitab dan topik-topik dalam PAJA yang direncanakan. Dengan demikian maka PAJA yang direncanakan dan disajikan bersifat berkesinambungan antarsemua bagian-bagian dalam akitab.
Hal yang ingin saya tekankan dalam prinsip-prinsip ini ialah menjadi dasar bagi pengembagan materi PAJA. Secara minimal seorang jemaat awam akan mengalami kesulitan dalam menerjemahkan prinsip-prinsip ini kedalam materi pemahanan Alkitab.oleh karena terasa berbelit dan abstrak. Dan saya mengakui bahwa prinsip-prinsip ini, sebenar tidak terlalu dibutuhkan ketika kita ingin memperoleh materi PAJA yang sederhana dan praktis. Sehingga memudahkan mereka melakukannya sendiri atau berkelompok. Lagi pula dari segi waktu saya merasa bahwa makalah ini terlalu kecil dan padat sehingga tidak dapat memuat secara menyeluruh pentingnya pengkajian yang mendalam tentang prinsip kurikulum dan pelaksanaannya serta sturuktur kurikulum PAJA.
Namun, saya mempertimbagkan sentilan singkat tentang prinsip pengembahan kurikulum PAJA dalam makalah ini karena secara relatif jemaat akan mendapatkan gambaran sederhana ketika mereka melakukan upaya pengkajian secara serius. Sebab esensi dari prinsip-prinsip pengembagan kurikulaum adalah memberikan semacam kerangka dasar dan menyeluruh atau semacam ukuran tertentu yang harus dipakai dalam pelaksanaan pembelajaran. Atau singkatnya bahwa prinsip-prinsip ini, telah memberikan gambaran tentang potensi jemaat dan kebutuhannya, yang kemudian menjadi dasar penetapan tujuan yang ingin kita capai melalaui pembelajaran, memberikan juga gambaran tentang isi/materi yang proporsional dan harmonis dengan tujuan, kesimanbungan isi/materi sesuai dengan jenjang-jenjang materi, kurun waktu tertentu yang harus dipersiapkan, mempersiapkan metode, dan sistem evaluasinya. Walaupun semua ini masih terlalu luas dan abstrak.
Sekalipun terlalu prematur/belum gitu tepat tahapan untuk masuk pada desain materi PAJA--dan akan terlihat bahwa saya melakukan loncatan dalam proses pengembagan kurikulaum--saya langsung masuk pada bagaimana jemaat awam dapat mempersiapkan materi pemahaman Alkitab yang sederhana dan praktis yang tetap serta memiliki efektifitas yakni ia memperoleh pemahaman yang benar dan sehat dari bagian-bagian materi Alkitab.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam mendesai materi PAJA dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Berdoa.
Doa merupakan hal yang pertama-tama harus dilakukan jemaat sebelum mempersiapkan materi PA. Dengan doa, jemaat memohon penyertaan dan berkat Roh Kudus untuk membuka dan menyucikan hatinya. Dengan hati yang suci dan terbuka maka jemaat dapat menerima kebenaran firman Allah.
2. Menentukan Tujuan Dan Sasaran PAJA
Dalam pemahaman Alkitab jemaat awam tujuan menjadi sangat penting. Secara ideal pemahaman Alkitab memiliki tujuan utama yakni agar terjadi trasformasi atau perubahan hidup. Hal ini dikemukan Rasul Paulus dalam (I Tim.1:5) ”Tujuan nasehat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni, dan dari iman yang tulus ikhlas”. Dapat juga dilihat pada ayat-ayat berikut, (Ef. 3:19; 4:13; Ibr. 5:14; 6:1; Rom. 12:2; dan Gal.5:22-23), yang kesumuanya berbicara tentang tujan pengajaran Alkitab.
Akan tetapi menjadi suatu persolan tersendiri bahwa tujuan yang hendak ditentukan dalam PA merupakan sesuatu yang telalu besar dan luas sehingga sulit diukur (Laurence, 1994:193). Katakanlah bahwa kita menentukan gagasan tentang ”kedewasaan iman”, namun kita belum dapat menyusun suatu pelajaran yang dapat membawa kita pada ”kedewasaan iman”. Jika kita melakukan analisis tentang apa saja yang termasuk kedewasaan iman, maka ada banyak sekali petunjuk tentang ”kedewasaan iman”. Bisa tentang hubungan kita dengan Allah melalui doa, membaca dan merenungkan firman, ibadah, pujian, pengakuan dosa, dll. Selain itu berhubungan juga dengan hubungan kita dengan sesama, kasih, kesabaran, pengampunan, rela menderita, kesaksian dan banyak lagi. Oleh sebab itu maka, tujuan harus spesifik atau tujuan pembelajaran memiliki sasaran apa?
Menurut Setiawani (1996:17-18), dalam menentukan tujuan PA perlu diperhatikan beberapa hal:
1. Titik tolak tujan harus berasal dari pihak jemaat.
2. Harus mencakup hasil belajar yang mendasar: belajar memperoleh pengetahuan, belajar memperoleh pengertian, belajar dalam sikap dan tingkah laku, atau belajar keterampilan.
3. Tema harus jelas dan mudah dicerna.
Benson (1986:16), mengemukakan dasar-dasar bagi tujuan PA yakni:
1. Yang menjadi dasar dalam penetapan tujuan PA adalah Alkitab. Demikian maka, jemaat harus harus tekun mempelajari Alkitab seperti ia harus membaca Alkitab secara rutin. Demikian maka ia dapat memahami konteks nats yang dibaca.
2. Dasar Lain Dari Juan Pa Ialah Keperluan Atau Kebutuhan Jemaat.
Dari kedua pandangan ini, maka dapat dilihat kesamaan tekanan akan kebutuhan jemaatlah yang harus diperhitungkan dalam tujaan PA. Oleh sebab itu pengenalan akan kebutuhan menjadi sesuatu yang niscaya dari jemaat. Salah mengenal kebutuhan berarti salah pula kita mengupayakan suatu keutuhan materi PA. Materi PA yang baik adalah materi PA yang setingan tujannya tepat dengan kepentingan/kebutuhan jemaat. Dari ketepatan inilah maka masalah atau kebutuhan jemat baru bisa terjawab. Selain itu bahwa ketepatan mengenali dan menetukan kebutuhan, maka jemaat dapat mengaitkannya dengan firman Allah. Hal ini tidak berarti bahwa Alkitab menjadi dasar kedua (merujuk makna kualitatif) tetapi justru Alkitab adalah dasar, sumber, jalan, wadah di mana kebutuhan jemaat dipenuhi. Alkitab adakah kunci penyelesaiaan persoalan/kebutuhan jemaat. Dari Alkitab sajalah hasil belajar yang mendasar: belajar memperoleh pengetahuan, belajar memperoleh pengertian, belajar dalam sikap dan tingkah laku, atau belajar keterampilan bisa tercapai. Oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa tujuan PA adalah ketika kebutuhan jemaat bermuara pada Alkitab.
Kemudian tujuan perlu spesifikasi atau diberi sasaran sehingga bisa diukur. Menurut (Laurence, 1994:140), dalam PA terdapat tiga macam sasaran. Antara lain:
a. Sasaran isi. Di sini tujuan utamanya ialah menyampaikan informasi isi Alkitab. Dengan terlebih dahulu mengetahui menguasai suatu bagian firman dan mengertinya secara keseluruhan bagian itu, maka jemaat tidak tergelincir pada penyalahtafsiran bagian-bagian ayat Alkitab.
b. Sasaran inspirasi. Di sini tujuan utamanya ialah memberikan inspirasi atau ilham, atau mencoba mengugah emosi jemaat. Bagian ini membawa jemaat tidak hanya berada pada level menguasai informasi-informasi Alkitab saja. Sebab ketika Alkitab hanya dikuasai sebagai suatu informasi ia tidak akan berdampak apa-apa pada pertumbuhan rohani jemaat. Sasaran inpirasi adalah sebentuk respon secara emosional yang diharapkan terjadi pada jemaat ketika ia mempelajari Alkitab. Respon melibatkan emosi jemaat ketika ia menemukan ”suatu” hal dalam pembelajarannya. Respon yang positif kepada Allah jikau ia berdasarkan kasih (I Kor. 13).
c. Sasaran tindakan. Di sini tujuan utamanya ialah mengerakan jemaat untuk bertindak. Ketika jemaat mjelihat implikasi dari kebenaran Alkitab untuk kehidupannya sekarang ia dapat memberikan respon yang berupa perbuatan. Sebagai contoh, dalam (Ibr. 5:14) mengatakan bahwa orang yang secara rohani sudah dewasa, dapar ”membedakan yang baik dari pada yang jahat”. Kata yang diterjemahkan membedakan (Yun: Krino) yang dapat diartikan juga menilai, membicarakan tentang kemapuan jemaat untuk bertindak memilih yang benar dan mengabaikan yang jahat.
3. Menyelidiki Latar Belakang Yang Berhubungan Dengan Alkitab.
Dalam upaya penyelidikan latar belakang Alkitab diperlukan pengetahuan dan kertrampilan yang berhubungan ilmu pembimbing Alkitab yang membicarakan secara khusus tentang lb. Sejarah, budaya, sosial-kemasyarakatan, agama, politik, ekonomi dan sastra Alkitab. Serta penguasaan ”hemeneutik”/ilmu tafsir ,yang saya pandang terlalu rumit untuk diterapkan pada konteks PAJA bahkan menjadi tidak tepat dengan semangat makalah ini. Tetapi, jemaat awam dapat mempergunakan sumber-sumber seperti Ensiklopedi Alkitab, Ikhtisar lkitab, pengetahuan Alkitab, dan refensi lain yang disa diperoleh dan dipelajari untuk kepentingan studi Alkitab secara praktis.
4. Mensistimatiskan Bahan Pelajaran Dengan Teratur
Pada bagian ini, jemaat sudah harus menyusun kembali bahan pelajaran PA secara teratur. Maksudnya ialah menentukan tujuan dan sasaran yang sesuai dengan kebutuhan jemaat sendiri. Artinya juga bahwa Isi pelajaran yang telah dipelajari harus berdasarkan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan.
5. Membuat Out Line/Garis Besar Materi PA
Setelah mempersiapkan secata sistimatis bahan-bahan PA, maka jemaat harus membuat garis besar, anatara lain:
a. Tema. Materi PA harus terlebih dahulu diberi tema/topik. Tema dapat dibuat secara singkat padat dan jelas. Suaut tema yang baik adalah tema dapat memberikan kita gambaran keseluruhan dan bisa juga inti dari keseluruhan materi yang akan dipelajari.
b. Pendahuluan. Bagian ini merupakan bagian yang pertama-tama membuat kita sendiri meresa tertarik dan memberikan perhatian dalam melakukan PA. Dapat dipergunakan ilustrasi, gambar, cerita peristiwa, ddl. Prinsipnya bahwa pendahuluan merupakan ”jembatan” yang dapat menghubungkan jemaat dengan alam materi secara keseluruhan. Diasanya pendahuluan akan diakhir dengan pertanyaan yang menantang setiap orang untuk terlibat lebih jauh dan dalan pada isi.
c. Inti sari Pelajaran. Pada bagian isi, materi PA dapat dibuat dengan bentuk cerita, kasus, shering, pujian dan juga ayat-ayat tertentu yang telah dipertimbangkan berdasarkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Kemudian di bantu dengan pertanyaan-pertanyaan pendalaman yang membutuhakan ketelitian dalam analisis dan diskusi. Hal-hal yang penting atau inti perlu biduat secara unik dan menarik sehingga mudah diingat.
d. Implikasi. Merupakan rangkaian penting dalam PA yang sifatnya menggugah jemaat untuk merespon apa yang ia peroleh secara khusus dalam PA baik secara emosi bahkan tindakan nyata seperti bersaksi, ikrar, dll.
6. Metode.
Metode adalah alat bantu yang dapat digunakan jemaat dalam melakukan PA. Jadi metode berfungsi sebagai pemudah bagi jemaat untuk mencapai tujuan belajar. Singkatnya metode memudahkan jemaat untuk menguasai materi PA dan mencapai tujuan yang ditentukan. Saran saya ialah jemaat dapat mempergunakan metode yang variatif dalam PA. Dan biasanya metode telah dapat ditentukan ketika tujuan dan sasaran di tentukan.
7. Bahan Audiovisual yang sesuai
Jemaat dapat mempersiapkan bahan audiovisual yang ada disekitarnya. Alam menyediakan banyak bahan audiovisual yang bisa dimanfaatkan.
8. Aktivitas
Aktivitas berhubungan dengan respon jemaat terhadap pelajaran. Setiap jemaat dapat menujukan aktifitas ketika ia meresponi firman Allah. Aktivitas biasanya disesuaikan dengan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan.








9. Membuat Rancangan Rencana PAJA

Tema KELAPARAN Ayat : Mazmur 119:105

Tujuan Memiliki sikap menghargai firman Allah dalam totalitas kehidupan
Sasaran 1. Mendiskusikan istilah, manfaat dan kekayaan firman Allah
2. Memberikan refleksi yang berkaitan dengan pertolongan Allah melaui kuasa firman-Nya.
3. Menjelaskan tindakan menghindari kekerasan hati terhadap firman Allah.

Susunan Waktu Isi Metode Peraga Aktivitas
Pendahuluan:
Menarik minat peserta 5 menit Kelaparan Rohani Cerita Ubi kayu Menceritakan dan
Menyimak
Isi Pelajaran:
Belajar Alkitab penjelasan Alkitab 30 Menit Mengenali istilah2 FA
Menggali kekayaan FA Penelitian
&
Diskusi
&
Laporan --------- Meneliti
Diskusi
&
Persentasi
Penerapan:
Dalam kehidupan praktis 15 Menit Menghindari kekerasan hati terhadap FA Berjanji --------- Saat teduh untuk berikrar










Materi PAJA
Kelaparan........!!!
























Pendalaman Firman Allah
Alkitab mengunakan berbagai istilah untuk untuk menjelaskan firnman Allah. Dalam pelajaran ini akan dipelajari beberapa diantaranya, sbb: Taurat Tuhan, Hukum Tuhan, Perintah Tuhan, Hukum-Mu, Ketetapan-Mu, Firman, Air Susu Murnidan Ucapan Mulut-Nya.
Ayat Acuan


















Ooooooooooooooooooo Penelitian dan diskusi kellompok
1. Tuliskanlah semua istilah yang anda temukan dalam ayat-ayat acuan ini, yang digunakan untuk melukiskan Alkitab.
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

2. Tuliskan semua manfaat firman Allah bagi orang percaya.
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

3. Sesuai dengan ayat-ayat acuan di atas, bagaimana orang dapat menggali kekayaan Firman Allah? ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................



Penerapan Firman Allah

Ayat acuan









Terapan pribadi

1. Adakah anda bersikap sama dengan orang Yahudi di Berea?

............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

2. Mengapa anda melakukan hal demikian?

a. Apakah tindakan itu dpengaruhi oleh faktor di luar anda?

........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

b. Apakah tindakan itu dpengaruhi oleh faktor di di dalam diri anda?

...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................


3. Apa tindakan anda untuk mengubah hal itu?

............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................


III. PENUTUP

Setelah saya secara panjang lebar mengkaji keseluruhan materi ini yakni Pemahaman Alkitab Jemaat Awam, maka beberapa kesimpulan dapat saya ambil sebagai simpulan dari penulisan ini, sbb:

1. Pemahaman Akitab Jemaat Awam (PAJA) merupakan suatu terobosan strategi dalam upaya pertumbuhan iman jemaat secara khusus mereka yang awam. Sebab kemalau keterlibatan yang langsung (partisipatif) jemaat akan memperoleh lebih banyak pemahaman dan pengalaman belajar firman Alllah. Pertumbuhan ini, berlangsung lebih pada sisi kualitatif dari tiap indifidu, yakni tranformasi pola pikir yang akhirnya termanisestasi dalam kehidupan nyata, baik perubahan perilaku dan tingkah laku.
2. Partisipasi jemaat yang berdampak pada transformasi pola pikir/kesadaran merupakan kunci dari pertumbuhan gereja secara institusi. Gereja secara intitusi akan mengalami stagnan bahkan resesi dalam tanggung jawab sebagai saksi Kristus ketika jemaat-jemaat atau individu-individu dalam gereja tidak memiliki daya untuk menjalan kompleksitas fungsinya secara optimal. Stagnan dan resesi semangat kesaksian akan membawa gereja secara intitusi “bubar”dan ”hancur”. Inilah tanda “kematian” gereja secara rohani.
3. Walaupun pertumbuhan iman jemaat dapat diupayakan melalui terobosan-terobosan strategis. Tetapi perlulah diingat bahwa kici kehidupan atau keberhasilan pengupayaan itu tidak dapat dilimpahkan atau mengandalkan metode-metode mutakhir. Sebab keberhasilan pertumbuhan iman jemaat adalah karya Roh Kudus. Oleh sebab sebaik apa pun suaut terobosan yang dipersiapkan gereja, ia harus bergantung pada karya Roh Kudus.
4. Pertumbuhan iman jemaat juga tidak berjalan atau terjadi seketika. Dibutuhkan sesabaran dan ketekunan yang teramat sangat oleh karena pertumbuhan iman terjadi sepanjang hayat. Dan ini mengindikasikan bahwa ditengah-tengah dinamisnya suatu pertumbuhan iman jemaat/gereja kemunduran juga menatinya. Waspada!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar